Tantangan Ekonomi Indonesia 2006

Tantangan Ekonomi Indonesia 2006

Tantangan Ekonomi Indonesia 2006

Tantangan Ekonomi

Kondisi ekonomi mikro Indonesia mendekati akhir tahun pada saat ini terlihat membaik dengan menguatnya nilai mata uang rupiah sampai ke level Rp 9.400 (pada 12 Desember), kemudian melemah lagi sebesar Rp 9.700 (14 Desember 2005), tetapi menguat lagi Rp 9.500 dan meningkatnya Indeks Harga Saham Gabungan ke level Rp 1.300 (12 Desember 2005). Hal tersebut diikuti dengan tindakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak industri untuk Desember 2005 berkisar 4,9 – 14,4%, disebabkan mengikuti kecenderungan penurunan harga minyak mentah di pasar internasional.

Ekonomi Indonesia

Harga BBM per liter yang berlaku mulai 1 Desember 2005 adalah premium Rp 5.150, minyak tanah Rp 5.550, minyak solar Rp 5.340, minyak diesel Rp 5.180, dan minyak bakar Rp 3.680. dibandingkan dengan harga bulan November, harga minyak tanah turun paling tajam, yaitu sebesar 14,4 persen, disusul solar 13,5 persen, minyak diesel 12,8 persen, permium 12,6 persen, dan minyak bakar 4,9 persen.

Tantangan Ekonomi Indonesia 2006

Yang menjadi masalah adalah apakah hal tersebut merupakan sinyal dan akan menambah optimisme rakyat Indonesia terhadap kondisi ekonomi makro di tahun 2006. Kondisi ekonomi makro Indonesia yang membaik pada saat ini lebih didominasi oleh sentimen pasar, menguatnya nilai tukar lebih dikarenakan oleh adanya isu-isu, bukan karena kinerja ekonomi makro. Menurut pendapat para ekonomi ada beberapa masalah yang harus diselesaikan. Pertama, sistem nilai tukar mengambang yang berlaku selama ini, mungkin tidak cocok untuk Indonesia, walaupun hal itu tidak berlaku di negara lain. Kedua, demikian juga dengan sistem capital inflow dan capital outflow yang menganut sistem bebas mungkin perlu ditinjau kembali. Ketiga, hal yang ketiga sama dengan dua masalah yang di atas, yaitu sistem rezim devisa bebas juga perlu ditinjau kembali.

Nilai rupiah

Nilai rupiah yang menguat adalah karena adanya capital inflow yang besar yang dilakukan oleh spekulator antara lain dengan pembelian SUN oleh investor asing. Seperti kita ketahui hal tersebut bisa saja menjadi capital flight sewaktu-waktu karena sistem bebas yang kita anut tersebut. Pembentukan tim ekonomi yang baru, reshuffle cabinet, dan rencana pengembangan infrastruktur juga akan memperkuat optimisme rakyat Indonesia terhadap harapan membaiknya kondisi ekonomi makro Indonesia di tahun 2006.

 

Sumber : https://www.dosenpendidikan.co.id/