Perkebunan

RU’YAH DAN HISAB

RU’YAH DAN HISAB

RU’YAH DAN HISAB

RU’YAH DAN HISAB

Ru’yah dan Hisab adalah dua istilah yang popular dikalangan umat islam sebagai cara untuk menetapkan waktu permulaan puasa. Sebenarnya kedua istilah tersebut bukanlah kegunaannya hanya untuk menetapkan waktu permulaan puasa, tetapi juga untuk menetapkan idul fitri, idul adha, menetapkan awal bulan tiap bulan Qomariyah serta juga untuk menetapkan waktu sholat. Lebih dari itu hisab di gunakan pula untuk menetapkan arah kiblat.

Ada dua jenis cara perhitungan mengenai tanggal, bulan dan tahun, yaitu perhitungan Qomariyah dan perhitungan Syamsiah atau perhitungannya berlainan. Perhitungan Qomariyah (Hijriah) di dasarkan atas perjalanan bulan dengan jumlah waktu 29 atau 30 hari setiap bulannya. Sedangkan perhitungan Syamsiah (masehi) didasarkan atas perjalanan matahari dengan jumlah waktu 30 hari dan 31 hari setiap bulannya, kecuali bulan februari yang berkisar antara 28 dan 29 hari. Kedua jenis perhitungan sama-sama mempunyai 12 bulan dalam setahunnya, yaitu untuk bulan Qomariyah adalah Muharam, Safar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijjah. Sedangkan untuk bulan Syamsiah adalah Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Dari adanya perbedaan tersebut maka bulan-bulan Qomariyah setiap tahunnya lebih pendek dari bulan Syamsiah, lebih kurang 12 hari. Karena itu pula maka adanya bulan Ramadhan, bila di ukur dengan bulan Syamsiah selalu bergeser kedepan. Dan ini mengakibatkan bulan ramadhan itu akan dapat di alami oleh seluruh bulan Syamsiah. Dan ini pula sebagai tanda keadilan Allah SWT yang meratakan pelaksanaan bulan Ramadhan pada segala musim. Khususnya di barat, di mana di kenal empat musim setiap tahunnya yaitu musim dingin (winter), musim bunga (spiring), musim panas (summer) dan musim rontok (autumu). Seseorang yang berpuasa akan mengalami panas yang membakar ataupun dingin yang membeku, tetapi kesemuanya itu sebagai ujian dan tanda kepatuhan terhadap Allah SWT.

Masuknya bulan Ramadhan dan tanggal mulainya idul fitri sebagaimana yang umum di kenal, masyarakat islam di tentukan oleh Ru’yah dan Hisab.[14]

Ru’yah adalah suatu cara untuk menetapakan awal bulan Qamariyah (Ramadhan) dengan jalan melihat dengan panca indra mata timbulnya atau munculnya bulan sabit dan bila udara mendung atau cuaca buruk sehingga bulan tidak dapat dilihat maka hendaklah menggunakan istikmal (menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari).

Hisab adalah suatu cara untuk menetapkan awal bulan Qamariah (Ramadhan) dengan jalan menggunakan perhitungan secara ilmu astronomi, sehingga dapat di tentukan secara eksak letak bulan, dengan demikian di ketahui pula awal bulan Qamariyah tersebut.

Perbedaan Dua jenis perhitungan tersebut terletak dalam memandang dan memahami serta menafsirkan ayat Al-Qur’an dan Hadits seputar masalah Ru’yah dan Hisab. Ayat-ayat Qur’an dan Hadits tersebut adalah :

sumber :