Pendidikan

Resensi Cerpen

Resensi Cerpen

Resensi Cerpen

Resensi Cerpen
Resensi Cerpen

Malam ini bintang tiada yang indah, kebanyakan redup tak bercahaya. Bulan hanya terlihat separuh saja, tak menarik hatiku. Terlihat kedip-kedip lampu dari langit di ujung Utara, mungkin pesawat dari negara besar, aku tak peduli. Langit agak pucat rupanya. Lama aku mengamati langit, mengharap sesuatu muncul di sana. Aku tak yakin yang kutunggu akan datang. Namun aku akan tetap sabar menunggu. Tetap menunggu bintang jatuh dan mengucap suatu permohonan agar nasibku berubah. Sekian waktu kutunggu yang ada tetap kebekuan, keheningan, aku kedinginan oleh angin malam yang semilir lembut.

Sampai akhirnya aku kecewa, kuputuskan untuk kembali ke rumah kecilku. Sebuah tempat tinggal yang sederhana di kota Purwodadi.

”Besok aku akan kembali ke bukit ini”, pikirku.

Saat kubuka pintu dan memasuki ruang tamu, kulihat ibu tertidur di sofa. Aku tak berani membangunkannya, ia terlihat letih setelah seharian bekerja. Hingga kubiarkan saja ibuku tertidur di situ. Rona mukanya tampak kusut tak seperti biasanya.

Aku mulai beranjak, kumasuki kamarku yang remang, sengaja tak kunyalakan lampu. Kuhempaskan tubuhku ke tempat tidur begitu saja. Masih terbayang bisik-bisik yang kudengar dari orang-orang tadi siang.

”Hah…percuma ya ditutup jilbab kayak gitu. Tidak bisa menutupi kejelekannya. Sama saja dengan ibunya. Dasar pembuat aib keluarga, anak tidak jelas asalnya”.

Pedih hatiku mendengar cehan orang-orang itu. Mereka meragukan niatku memakai jilbab. Kenapa mereka selalu memandang sinis ke arahku. Ingin rasanya kumaki mereka. Tapi aku tak bisa, karena mereka benar. Aku anak tak jelas asalnya, tak punya ayah yang sah. Tapi aku tak bisa menyalahkan ibu. Dan aku teringat kata-kata seseorang yang tak kukenal, aku sengaja mengupingnya.

”Tetap saja Yuni yang salah. Laki-laki tak bisa disalahkan. Pasti Yuni sudah menggodanya. Kalau ia tidak genit begitu, tidak mungkin laki-laki itu tergoda, dia kan tidak cantik dan tidak seksi sama sekali”.

Tiba-tiba aku menangis mendengar celotehan yang menjelek-jelekkan ibuku seperti itu. Aku kecewa mereka tak menyebutkan ”laki-laki” itu siapa. Dalam hatiku aku ingin tahu ”laki-laki” itu, dialah ayahku, laki-laki yang telah menelantarkan kami.

Aku tetap tak bisa terlelap. Berkali-kali aku mencoba memejamkan mataku, sia-sia saja. Akankah kutanyakan lagi pada ibu? Siapa ayahku yang sesungguhnya? Tak tega rasanya menyakiti hati ibu. Ia selalu menjawab pertanyaanku dengan tangisan.

”Maafkan ibu Nak…semua sudah takdir. Jangan kau tanyakan lagi. Ibu mohon kepadamu”.

Itulah jawaban ibu yang disertai tangisan yang meledak. Setelah itu biasanya ibu tak mau makan berhari-hari. Sampai aku memohon agar ibu mau makan.

Tapi malam ini pertanyaan itu semakin membuncah di dadaku. Benarkah ibuku yang salah? Lalu apa salahnya? Walaupun kebekuan yang tetap menemaniku, walau aku sendiri, air mata ini sudah tak bisa mengalir lagi, sudah terlalu kering dan habis.

”Uhuk-uhuk…”

Lamunanku tersadar ketika kudengar ibu terbatuk. Perlahan aku mendekatinya.

”Ibu tidak apa-apa?” tanyaku cemas meihat iu mutah darah.

”Kamu sudah pulang Nay…” ia balik bertanya mencoba menutupi penyakitnya.

”Ibu tidak apa-apa Nay. Kembalilah tidur, hari sudah larut malam”, jawabnya parau. Aku tak menjawab sepatah katapun.

Dan aku kebigungan setengah mati, ibuku pingsan. Spontan ku telepon taksi, kubawa ibu kerumah sakit.

”Ibu sebenarnya sakit apa?” itulah yang menggelayut dipikiranku.

”Ibu sakit apa Dok?”, tanyaku cemas.

”Adik ini…..?”

”Saya Naysa Dok, putrinya”.

”Ibu Anda terkena kanker ganas. Sudah terlalu kritis. Sudah tak ada harapan untuk sembuh. Ia harus opname di sini”. Dokter menjelaskan dengan suara pelan, namun terasa menggelegar di telingaku.

Pelan-pelan kudekati ibuku. Kulihat air mata bening mengalir di pipinya. Aku mengusapkan tanganku ke pipi ibu, orang yang sangat kucintai. Tak ada kata-kata terucap dari mulut kami. Perlahan pintu terbuka, kulihat empat orang memasuki ruangan. Ternyata adalah Nenek, Paman, Bibi dan Afza sepupuku.

”Bagaimana keadanmu Yun?” tanya nenek dengan cemas.

”Aku baik-baik saja Bu”, jawab ibu menyembunyikan sesuatu.

Tiba-tiba paman angkat suara. Langsung ke pokok permasalahan, tanpa basa-basi, tanpa ragu lagi.

” Yun maafkan aku, kau seperti ini pasti gara-gara aku. Sekarang aku akan menceritakan semuanya pada kalian yang ada di sini”.

”Tidak…jangan…” teriak ibu histeris.

”Harus kujelaskan semua kepada mereka Yun….kau telah menderita selama ini, semua gara-gara aku. Aku yang salah, akulah yang seharusnya menderita. Bukan kau”, sahut paman dengan tegas.

Semua terdiam, seperti menunggu sebuah kejutan besar.

”Naysa……..” paman menyebut namaku. Aku menoleh ke arahnya, lalu ke arah ibu. Ia tak melanjutkan kata-katanya. Kulihat ibu semakin menangis.

”Kamu adalah anakku” ia meneruskan bicaranya dengan suara pelan.

Bibi tercengang, menangis dan keluar ruangan. Ia merasa shock suaminya selingkuh dengan saudaranya sendiri. Nenek dan Afza juga menangis. Tapi paman tak mengeluarkan setetes air matapun. Ia seperti sudah siap dengan segala resikonya.

Paman mengikuti istrinya keluar ruangan. Kubuntuti keduanya tanpa sepengetahuan mereka. Sengaja aku menguping pembicaraan mereka.

”Ma….semuanya tidak seperti yang engkau pikirkan. Semuanya begitu cepat terjadi”, paman mencoba menjelaskan pada bibi. Bibi tak bergeming, ia tetap menangis, meronta. Lalu paman melanjutkan bicaranya lagi.

”Saat mama bekerja di Brunai, Yuni selalu mengantarkan makanan ke rumah”.

”Aku yang memintanya”, kata bibi memotong pembicaraan. Aku masih menguping.

”Dengar dulu penjelasanku Ma. Awalnya memang tak terjadi apa-apa. Suatu hari ia tidur di kamar Afza, pintunya tak terbuka. Kulihat Afza sedang tak dirumah. Aku tergoda dan…….”.

”Sudahlah Pa…biarkan mama sendiri”.

Paman menghampiriku dan mengusap rambutku.

”Maafkan aku Nay…semua salahku. Kini kau boleh memanggil aku ”Ayah”. Bukan salah ibumu saat itu. Aku yang memaksanya. Maafkan aku telah menelantarkan kalian”.

”Tidak…kau hanya laki-laki tak punya hati. Hanya memikirkan diri sendiri. Perampas kebebasan ibuku. Kau bukan ayahku”, kataku sambil lari kearah ibu dan mencoba memeluknya.

Paman menangis di luar ruangan.

Tiba-tiba ibu kejang. Kuminta Afza memanggil dokter. Tak lama ibu terdiam….wajahnya pucat tetapi sedikit menyungingkan senyuman.

”Innalillahi wa inna ilaihi roji’un” kata dokter perlahan.

Mendengar hal itu, aku merasa dunia akan runtuh. Semua tinggal kebekuan di hatiku, hanya luka di hatiku.

” Ibu…jangan tinggalkan Naysa Bu. Naysa sendiri tanpa ibu….”

Nenek merengkuhku, mencoba menenangkanku. Bibi kembali masuk ruangan dan menangis. Tapi paman tak berani masuk ruangan, ia terisak di luar sana dan aku tak peduli.

Perlahan sekujur tubuh ibu tertutup tanah, aku tak dapat melihatnya lagi, untuk selamanya. Teriring do’a dalam hatiku, kupanjatkan dengan sepenuh hatiku.

”Nay…mulai sekarang kamu tinggallah bersama kami. Kamu, ayah, bibi sekaligus ibu barumu, nenek dan Afza telah mau menerima semua kenyataan ini. Semuanya sudah memaafkanku dan ibumu. Kamu tidak seharusnya menderita Nay…ikutah bersama kami” kata paman padaku setelah semuanya kembali tenang.

Aku hanya mengangguk. Dalam keluarga baru ini aku mulai membangun kepercayaan diriku yang sempat hilang. Aku mencoba menyayangi ayah dan ibuku yang sekarang. Aku ingin memulai hidup bahagia tanpa dicaci maki orang.

Sebulan telah berlalu, semuanya baik-baik saja, saat aku besekolah tiba-tiba handphoneku berdering.

“Assalamu’alaikum. Halo…Ibu ada apa?” tanyaku kaget.

”Nay….cepat kamu kesini Nay…Rumah Sakit Mandiri Sehat”, jawab ibu singkat.

”Ada apa Bu?”.

”Tut…Tut…Tut”

Telpon dimatikan. Dalam hatiku bertanya-tanya ada apa sebenarnya? Siapa yang sakit? Sesampainya di rumah sakit, kulihat Ibu dan nenek menangis di ruang tunggu.

”Ada apa Bu?”

”Nay…ayahmu kecelakaan sepulang dari restaurant dengan kliennya. Sekarang ia dioperasi” jawab ibu singkat

Aku terdiam, duduk dengan lemas. Tiga jam kutunggu ayahku dioperasi. Rasanya setahun Dokter tak muncul dari ruangan yang menakutkan itu

”Bagaimana Dok?” tanya ibu setelah dokter keluar.

Dokter menggelengkan kepalanya. Seperti sudah mengisyaratkan sesuatu, sudah ada arti darinya.

”Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Bu. Tapi Allah yang menentukan segalanya. Jantung beliau hancur ketika kecelakaan. Tabahkan hati Ibu dan keluarga yang ditinggalkan”.

Nenek dan ibu berpelukan. Aku tak mampu membendung air mata. Kebekuan terasa menemaniku. Aku tak bisa lepas dari kesedihan. Kedukaan seperti menjadi bagian dari hidupku. Kini aku telah kehilangan ayah dan ibu kandungku. Apa lagi yang kupunya kini?

”Ya Allah…kenapa kau ambil dia ketika aku sudah mempercayainya. Kau sudah mengambil ibuku. Aku sendiri lagi ya Tuhan……Kenapa kau renggut dia dari kehidupanku saat aku sudah berbahagia dengannya. Apa yang harus aku lakukan ya Allah? Rasanya baru sebentar saja dia menjadi bagian dari hidupku. Kupasrahkan semua takdir kepada-MU ya Rabb…” rintihku pelan.

Di bukit ini kembali ku tatap langit, tetap tak ada bintang yang indah. Langit tetap suram tak merona sedikitpun. Bintang jatuh yang kutunggu tetap tak muncul. Serangga malam serasa bernyanyi di berbagai ujung, menyanyikan sebuah kidung kebekuan untukku. Malam semakin larut, semakin dingin. Aku masih sendiri.

Baca Juga :