Prihatin, Siswa SMAN 1 Rongga Sulap Sekolah Jadi Hotel

Prihatin, Siswa SMAN 1 Rongga Sulap Sekolah Jadi Hotel

Prihatin, Siswa SMAN 1 Rongga Sulap Sekolah Jadi Hotel

Prihatin, Siswa SMAN 1 Rongga Sulap Sekolah Jadi Hotel
Prihatin, Siswa SMAN 1 Rongga Sulap Sekolah Jadi Hotel

Sejumlah siswa SMAN 1 Rongga menyulap bangunan sekolah sebagai hotel,

bukan karena kurang piknik mereka melakukan itu.

Bukan pula mencari sampingan menyambung hidup, mereka hanya ingin mengenyam pendidikan layaknya usia sebayanya.

Adalah Haikal Abdul (17) siswa kelas IX bersama delapan siswa lain warga Kampung Lembur Sawah, Desa Cinengah, Kecamatan Rongga Kabupaten Bandung Barat menjadikan bangunan sekolah sebagai tempat menuntut ilmu sekaligus bermalam sejak enam bulan lalu.

Keputusan menginap di sekolah ini bukan tanpa alasan, jarak dari rumah ke sekolah mencapai 14 kilometer melalui jalan terjal berbatu bahkan berlumpur.

“Perjalanan dari rumah ke sekolah bisa tiga jam, makanya untuk menghemat tenaga kita menginap saja izin sama kepala sekolah. Soalnya kan mau Ujian juga,”ungkap Haikal di SMAN 1 Rongga, Senin (9/4).

Haikal menuturkan, ia dan sejumlah siswa satu kampung terpaksa menginap sejak enam bulan lalu,

ini untuk menghemat tenaga dan pikiran jelang ujian nasional berbasis komputer (UNBK).

Total ada sembilan siswa kelas IX terdiri dari enam siswa bermalam di ruangan OSIS dan tiga siswi perempuan tidur di ruangan kelas kosong. Tidur pun hanya beralaskan karpet atau kursi yang dijajar menjadi dipan.

“Lokasinya rumah saya terpencil. Jika pun jalan tidak cukup hanya satu atau dua jam. Kondisi jalannya pun masih tanah bukan beton ataupun aspal. Jadi, saya putuskan untuk menginap di sekolah walaupun harus jauh dari keluarga,”katanya.

Tak jarang, saat malam dan mata tak juga terlelap, Haikal merindu hangatnya suasana rumah sekedar mengajari dua adiknya membaca atau menulis.

Namun begitu, setiap kesedihan mereka jadikan motivasi untuk terus belajar dan berharap dapat mereguk nikmatnya lulus pendidikan atas.

“Ya gimana lagi, dari pada sedih paling kita diskusi dan belajar bersama,”cetusnya.

Siswa lain Aji Purnama (17) mengaku rumahnya terletak di Kampung Cilangari tepatnya

berada perbatasan dengan Kabupaten Cianjur yang jarak tempuhnya pun tak cukup hanya satu atau dua jam.

“Biasanya juga saya kalau berangkat dari rumah pukul 05.00 wib, meskipun itu pun tak kesiangan namun sampai di sekolah capek dan jadi gak konsentrasi belajar. Makanya nginep jadi efisien waktu dan tenaga,” katanya.

Jika menggunakan roda dua, Aji mengatakan bisa memakan waktu tiga jam, ditambah kondisi jalan berbatu dan tanah merah. Buruknya insfrastruktur juga semakin bertambah saat musim hujan seperti saat ini.

“Batunya jadi licin, malah pernah ban bocor sampai sekolah pasti terlambat,”tandasny

 

Baca Juga :