Pengertian Cerpen, Ciri – Ciri Cerpen, Hal – Hal Menarik dari Cerpen, dan Contoh Cerpen Terbaru

Pengertian Cerpen, Ciri – Ciri Cerpen, Hal – Hal Menarik dari Cerpen, dan Contoh Cerpen Terbaru

Pengertian Cerpen, Ciri – Ciri Cerpen, Hal – Hal Menarik dari Cerpen, dan Contoh Cerpen Terbaru

 

Pengertian Cerpen, Ciri – Ciri Cerpen, Hal – Hal Menarik dari Cerpen, dan Contoh Cerpen Terbaru

Pengertian Cerpen

Kamu tentu senang membaca cerpen, bukan? Apa alasanmu senang membaca cerpen? Mungkin karena halamannya tidak tebal sehingga tidak menghabiskan waktu lama untuk membacanya. Atau mungkin karena dengan membaca cerpen kamu akan merasa terhibur dengan ceritanya.

Pelajaran ini akan mengajakmu berlatih menemukan hal-hal menarik atau mengesankan dari sebuah cerpen, kemudian mendiskusikannya bersama-sama.

Cerpen adalah salah satu bentuk karya sastra yang berisi tentang kehidupan seseorang dan diceritakan secara ringkas. Cerita dalam cerpen hanya sebagian kecil dari kehidupan manusia. Cerita pendek karya seseorang atau beberapa orang biasanya dikumpulkan dalam sebuah buku kumpulan yang dinamakan buku kumpulan cerpen.

Ciri-Ciri Cerpen

Ciri-ciri sebuah cerpen berbeda dengan ciri karya sastra jenis lain (novel atau roman). Sebuah cerpen memiliki ciri-ciri antara lain :

1. memiliki alur tunggal, karena jalan ceritanya hanya satu,

2. jalan cerita singkat, karena menceritakan sebagian masalah seseorang saja,

3. pelaku-pelakunya memiliki satu konflik sampai akhir penyelesaian,

4. terdiri dari kurang lebih 10.000 kata, dan lebih pendek dari novel,

5. para pelakunya memiliki perubahan nasib di akhir penyelesaian (ending) cerita.

 

Hal-Hal yang Menarik dari Cerpen

Hal-hal yang menarik dari suatu cerpen dapat ditemukan dari tema cerita, amanat cerita, bahasa, penyajian, jalan cerita, dan sebagainya. Metamorfosis Untuk menemukan hal menarik dari suatu cerpen, syaratnya kamu harus membaca keseluruhan cerpen dengan saksama.

Di bawah ini ada naskah cerpen. Coba kamu pahami dan diskusikan isinya bersama teman-temanmu !

Contoh Cerpen Terbaru

Biarkan Kami Tertawa

Suasana ruang makan, siang itu begitu riuh. Tidak seperti biasanya. Orang-orang di tempat itu tertawa-tawa. Tawa lepas. Sampai-sampai ada yang meneteskan air mata. Saking kelepasan tertawanya. Mereka terus tertawa. Seperti nasi, lauk-pauk yang menjadi jatah siang itu, ada yang di hadapannya, hanya menjadi baranghiasan. Sedikit pembicaraan, lalu tertawa kembali.

Bersama-sama. Berirama. Iramatawa yang lepas. Ruang makan itu, hanya terdengar suara tawa. Tidak terdengar denting sendok dan piring, tak henti. Seluruh karyawan PT. Garmen Santosa menikmati istirahat. Jam makan siang.

“ Kapan lagi kita bisa seperti ini?” celutuk Umar.

Kembali disambut tawa. Meski tidak lucu. Tetapi tawa itu terus menerus berkepanjangan.

”Kita nikmati suasana seperti ini,”ujar Netty sang marketing.

”Kita rayakan bersama-sama,” timpah Diah dari bagian akunting.

Ledakan tawa terus bergema. Sementara Ngatijah dari petugas dapur katin

hanya bisa menatap, tak tahu apa yang tengah terjadi, dan heran.

”Ada apa to mbak?, Kok semua pada tertawa-tawa,” kemudian Ngatijah bertanya.

Justru pertanyaan Ngatijah itu, kian meledak tawa para karyawan yang berjumlah 50 orang itu.

”Pokoknya, hari ini kita harus tertawa, Yu”! ujar Laura sekretaris manager,

“pokoknya kita tertawa,” sambungnya lagi. Dan, semua kembali terbahak-bahak.

Ngatijah kian bingung. Tetapi kemudian ikut tertawa.

”Semoga suasana seperti ini bisa kita ulangi!” timpal Hardi dari pengadaan barang.

”Kapan, Har?” tanya Maryoto, personalia yang sok usil itu.

”Kapan-kapan….” sambung Darto yang menirukan lagu Koes Plus. Kontan aja semua kembali tertawa.

Suasana siang itu, di dalam ruang makan, terus berlanjut. Betul mereka

menikmatinya, meski udara siang itu begitu panas. Seperti hati mereka yang ada di dalam.

Bentangan hari yang bakal dilewati tidak seperti yang sedang ditertawainya.

Begitu panjang dan samar-samar.

Tetapi mereka terus tertawa dan tertawa.

”Ssstt….., Pak Manager lewat!” ujar Laura.

Tawa yang gemuruh itu , tiba-tiba berhenti. Tak ada suara, hanya suara helaan nafas panjang. Saling berebut, saling menatap, saling menyembunyikan hati masing-masing. Para karyawan wanita, tidak sedikit yang mengeluarkan air mata.

Air mata? Mereka harus berusaha untuk saling menyembunyikan kegundahan hati.

Pak Manager masuk ruang makan, bingung. Suasana begitu senyap, suara

yang didengarnya tadi itu lenyap. Sepi hanya tatapan kosong, menatap dirinya,

lalu duduk di kursi biasanya. Laura yang biasanya duduk di dekat Pak Manager,

kini malah bergabung dengan teman-temannya yang lain. Serba salah Pak Manager

duduk sendirian. Meja masih utuh dengan nasi dan lauk-pauk. Kursi satunya

kosong, hingga nampak ada sesuatu yang kurang, di ujung ruangan.

”Kenapa kalian diam? Tadi kudengar kalian tertawa, apa yang lucu?” kata Pak Manager yang memecah keheningan.

Semuanya hanya saling pandang, saling berbisik, hanya mampu menatap

Pak Manager, dengan tatapan bertanya-tanya.

”Apa yang kau tertawakan, Har?” kembali Pak Manager bertanya kepada

Hardi, Ketua SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) di kota itu.

Hardi diam, tak berani untuk berkata. Hanya tatapan matanya yang berani untuk menatap Pak Manager.

”Aku ingin tahu, apa yang kalian tertawakan?”

”Kami hanya tertawa menertawakan nasib-nasib kami ini, Pak! Menatap

bayang-bayang hari esok,” jawab Hardi sedikit ketakutan.

”Memang kita perlu tertawa hari ini. Mari kita tertawa!” ajak Pak Manager.

Kontan saja seluruh karyawan yang ada di ruang makan itu melepaskan

ketegangannya, suasananya kian gemuruh.

”Sekarang ini, kita hanya memang punya tawa yang tersisa. Tidak ada lagi

yang bisa kita banggakan selain tertawa dari tempat ini, perusahaan ini,” sambung Pak Manager.

Disambung dengan tawanya yang begitu bebas. “Pak! Apa kita masih bisa

tertawa esok hari?” tanya Agus dari cleaning service, yang sejak awal hanya banyak merenung ketimbang ikut tertawa.

Pak Manager menghentikan tawanya. Seluruh karyawan juga ikut

menghentikan. Suasana ruangan itu kembali hening. Nasi, lauk-pauk, meja, kursi,

masih seperti semula. Utuh belum tersentuh, hanya di atas meja ada beberapa tetes air mata membasahi.

”Tawa untuk siapa, Gus? Untuk mengejek kita atau untuk mengejek dunia?

tukas Pak Manager. Dan disambut tawa kembali.

”Perusahaan ini dari pusat sudah ditutup, karena terus merugi. Garmen

sekarang sudah tidak bisa diekspor, kena kuota. Dan bulan ini, perusahaan ini

sudah bangkrut. Apa kita mau protes, sama siapa? Atau unjuk rasa, sama siapa?

Atau malah mau bunuh diri, di mana hayo….?” Pak Manager kembali tertawa.

Disambut seluruh karyawan yang ada.

”Sekarang ini, kita hanya punya tawa, dan pemerintah, serta direksilah yang

menyimpan tawa untuk esok hari. Untuk ditunda kemudian hari. Inilah dampak

kenaikan BBM, dan kebijakan perusahaan pusat,” ada suara getir dari ucapan Pak Manager.

”Kita ini sebetulnya di-PHK ya, Pak? Tetapi siapa mem-PHK siapa, tidak jelas.

Kami akan jalan kaki bersama, menuju Gedung Dewan. Di sana kami tidak akan

protes atau demo. Tetapi kami hanya akan membawakan drama tawa kami ini,

Pak!” ucap Hardi. ”Ke Gedung Dewan hanya ingin tertawa? Ha….ha…ha…,”

dan disambut tawa seluruh karyawan.

Kembali suara tawa itu terus berkepanjangan. Tidak pernah berhenti, ruang

makan itu seperti akan roboh oleh tawa 51 manusia yang ada di dalamnya begitu bergema.

”Dan, aku usul! Semua yang hadir dan ikut ke Gedung Dewan harus memakai

dasi. Baik laki-laki maupun perempuan,” ucap Pak Manager lagi. Tawa itu terus bergema tanpa batas.

Siang itu pula, sehabis dari ruang makan, Pak Manager telah menerima surat

dari PT. Garmen Santosa, bahwa cabang yang ada di kota “Y” telah ditutup. Tentang

pesangon, menunggu berita selanjutnya. Dan itu dibacakan, Pak Manager, pada

seluruh karyawan yang tengah berkumpul menuju Gedung Dewan.

Semua mendengar, semua tertawa, karena sebuah lelucon yang didengar.

Kapan itu berarti bayang-bayang lagi karena tidak jelas tidak tahu kapan akan

dapat pesangon. Hanya gaji terakhir di bulan itulah yang mereka terima.

Dan seperti itu telah direncanakan. Mereka berjalan kaki menuju Gedung

Dewan dengan berdasi, Pak Manager yang memimpin langsung. Sepanjang jalan

ke 51 karyawan PT. Garmen Santosa itu terus tertawa-tawa. Tidak ada slogan- slogan, tidak ada bentangan spanduk-spanduk besar, tidak ada tulisan-tulisan

yang menghujat, kecuali spanduk berukuran 2 meter kali 1 bertuliskan

”BIARKAN KAMI TERTAWA!”

Hanya itu yang mereka bawa. Dibawa paling depan oleh Laura dan Netty,

sepanjang jalan mereka terus tertawa-tawa. Orang-orang yang melihat tingkah laku

mereka ikut tertawa, hingga sampai ke depan Gedung Dewan tetap tertawa-tawa.

Dan mereka menunggu orang-orang Dewan keluar melihat mereka. Yang

menjadi pertanyaan setiap benak ke-51 karyawan itu,”Apakah para anggota

Dewan juga ikut tertawa?”