Pencegahan Penyakit

Pencegahan Penyakit

Pencegahan Penyakit

Pencegahan Penyakit
Pencegahan Penyakit

Pada umumnya, prinsip pengendalian penyakit dan pencegahan pe­nyakit yang berlaku untuk domba dan kambing berlaku juga untuk sapi dan kerbau. Parasit dalam, lebih-lebih pada hewan muda dan hewan sedang tumbuh, mungkin sebagai penyebab kerugian utama di daerah tropis dan hewan menjadi kurus. Oleh karena itu harus dilakukan pemeriksaan tinja secara teratur dan mengobatinya bilamana perlu.

Kulit kerbau memerlukan perawatan khusus jika kerbau dikandangkan jauh dari lingkungan alaminya, lebih-lebih jika kubangan tidak tersedia. Dianjurkan memakai cara tradisional yaitu memandikannya tiap hari dengan sikat lunak. Cara ini membantu nienjaga kulit tetap bersih, lunak dan mudah dilipat dan pada waktu yang sama rnemperoleh keuntungan yaitu menghilangkan parasit luar. Di musirn paras dan kering masih perlu menyemprot hewan secara teratur dengan emulsi minyak untuk menjaga kulit tetap sehat. Cara ini juga bermanfaat untuk menghilangkan parasit kulit. Jika hewan tenang dan mudah ditangani waktu pertama kali datang di laboratorium.

Penyakit Sapi dan Kerbau

Septisemia Epizootika (SE)

Septisemia epizootika mungkin adalah penyakit bakterial pada sap dan kerbau paling penting di Asia Selatan dan Tenggara. SE disebabkan oleh Pasteurela multocida tipe 1 (atau B). Penyakit itu disebut juga pasteurellosis septisemik dan penyakit ngorok. Penyakit tersebut da­pat menyebabkan kerugian besar, terutama di daerah rendah dimana hewan terkena udara dingin dan basah, atau terlalu payah karena kerja berat. Organisme penyebab penyakit dapat ada pada hewan yang secara klinis normal. Gejala SE adalah septisemia akut dengan tiba-tiba demam (41-42°C), ke luar banyak ludah, perdarahan berbintik pada submukosa.

depresi berat, dan kcmatian biasanya tcrjadi dalani 24 jam. Kadang-kaci;mg. edema lokal di bawah kulit dan dapat timbul gejala yang melibatkan pemapasan dan pcncernaan.

Perubahan pascamati biasanya terbatas pada perdarahan berbintik meluas dan edema paru-paru dan kelenjar limfe: Penyebab penyakit dapat diisolasi ciengan pemupukan darah jantung atau limfe, dan diag­nosis diteguhkan dengan identifikasi organisme penyebabnya.

Hewan yang sakit dapat diobati dengan antibiotika tetapi karena penyakit berkmgsung cepat, lebih baik vaksinasi hewan yang peka. Kekebalan sesudah vaksinasi berlangsung kira-kira satu tahun. Penyakit ini tidak dapat menular pada manusia.

 

Malignant Catarrhal Fever (MCF)

MCF adalah penyakit viral akut pada sapi dan kerbau dan biasanya fatal. Virus penyebabnya sangat sukar diisolasi dan walaupun satu virus-herpes telah diisolasi di Afrika, di negara lain belum pernah diteguhkan bahwa virus ini adalah satu-satunya penyebab penyakit. Rupa-rupanya ada kaitan dengan domba yang mungkin sebagai karier. Pada kebanyakan wabah MCF, domba mempunyai hubungan erat dengan sapi dan kerbau. Waktu paling berbahaya rupa-rupanya waktu domba sedang punya anak.

Hoffman et al (1984) menguraikan gejala dan lesi suatu wabah MCF pnda kerbau di Indonesia. Semua hewan penderita mati rata-rata 7 hari sesudah gejala timbul. Gejala utama adalah tidak mau makan, radang selaput lendir mata, demam lebih dari 40°C dan kemudian keluar leleran serius dari mata, takut cahaya, depresi dan kelenjar limpa membesar.

Peiubahan pascamati utama adalah perdarahan perikadial dan epikardial, hati membengkak dan kongesti, kandung empedu membesar, edema kelenjai limfe, banyak cairan dalam rongga perut berwarna merah karena darah, hidroperikardium, kulit berwarna merah. perda­rahan penggantung usus dan edema bawah kulit.

Perubahan histopatologik ditentukan pada banyak organ terutama jantung, sistem syaraf pusat, hati, kelenjar limfe, ginjal, usus, paru-paru, selapjt lendir peiut dan limpa. Perubahan ini terutama berupa infiltrasi sel limfoid disertai radang dan nekrose. Vaskulitis dan perivaskulitis lazim dijumpai.

MCF didiagnosis atas dasar riwayat, gejala dan hasil pemeriksaanpascamati dan histopatologis. Peneguhan diagnosis paling baik dilakukan dengan percobaan penularan

Tidak ada pengobatan memuaskan untuk MCF, dan vaksin yang efektif belum dibuat. Pengendaliaji dilakukan dengan pemisahan sapi dan kerbau dari kelompok domba yang dikenal sebagai karier. Kerbau dapat lebih peka terhadap MCF dibanding sapi dan Hoffman et al (1984b) telah menunjukkan bahwa sapi Bali tampaknya lebih peka daripada sapi Onggole sehingga faktor ini harus dipertimbangkan juga dalam pengendalian penyakit MCF.

Penyakit ini tidak menular pada manusia.

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)

PMK adalah penyakit akut dan sangat menular pada semua hewan berkuku genap dan disebabkan oleh virus yang termasuk dalam Famili Picornaviridae. Penyakit ini tersifat dengan timbulnya lepuh pada kaki dan mulut kemudian demam. Terdapat sejumlah galur virus yang secara antigenik berbeda dan ini menyebabkan masalah dalam melaksanakan program vaksinasi. Penyakit ini paling penting pada sapi, tetapi kerbau, babi, domba dan kambing dapat tertular

Virus PMK sangat tahan terhadap faktor lingkungan dan tersebar melalui udara, daging dan hasil-hasil perusahaan susu, makanan, alas tidur. dan pakaian yang tercemar dan Iain-lain, dan manusia dapat membawa virus dalam selaput lendir saluran pcrnapasan untuk beberapa hari sesudah terekspos dan dapat memindahkan infeksi.

Gejala penularan adalah demam tinggi (40—41°C), sangat depresi dan tidak mau makan. Stomatitis akut dan sangat sakit diikuti dengan banyak keluar ludah yang menggantung dari mulut seperti tali panjang. Demam makin turun waktu torbentuk lepuh dengan garis tengah 1 -2 cm di selaput lendir mulut, gusi dan lidah. Lepuh pecah sesudah 24 jam dan meninggalkan lesi terbuka, sakit sekali dan sembuh dalam waktu kira-kira satu minggu.

Lepuh timbul pada kaki, kulit di antara kuku dan sekif.ar korona pada waktu yang sama dengan terjadinya lepuh di mulut. Sesudah lepuh ini pecah hewan tiba-tiba pincang dan sering terjadi infeksi kuman sekunder. Nafsu makan timbul kembali sesudah 2-3 hari tetapi dapat sampai 6 bulan sebelum terjadi kesembuhan penuli. PMK cepat menyebar.

 

Pemeriksaan pascamati tidak menunjukkan lesi lebih nyata dari yang terlihat secara klinis.

Diagnosis dugaan dapat dibuat berdasar atas riwayat dan gejala, tetapi peneguhan diagnosis memerlukan uji laboratorium yang melelahkan. Penyakit ini harus dibedakan dengan vesicular exanthema (penyakit pada babi yang disebabkan oleh virus-calici) dan vesicular stomatitis (penyakit semuajenishewan disebabkan oleh virusvesiculo). Cara yang digunakan dalam laboratorium untuk mendiagnosis meliputi isolasi virus pada biak sel. Uji fiksasi komplemen dan percobaan penularan. Galur virus tertentu harus diidentifikasi. Tergantung pada prevalensi PMK di daerah tertentu penyakit ini dikendalikan dengan karantina dan pembunuhan dengan vaksinasi, atau dengan kombinasi keduanya. Usaha pemberantasan telah dapat mengendalikan PMK secara efektif di Indonesia. Usaha pemberantasan dimulai dengan pembunuhan hewan sakit, kemudian diikuti dengan ring-vaksinasi dan karantina untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Pindahnya hewan ke daerah bebas penyakit diawasi dengan ketat. Meskipun manusia dapat membawa virus untuk beberapa hari sesudah terekspos, tidak menyebabkan penyakit berat pada manusia.

Baca Juga :