Paragraf Deskripsi

Paragraf Deskripsi

 Paragraf Deskripsi

 Paragraf Deskripsi
Paragraf Deskripsi

Berikut adalah contoh paragraf deskripsi yang diambil dari buku yang berjudul “The Story of My Life”.

Kuhabiskan bulan-bulan musim gugur bersama keluargaku di pondok musim panas kami, di sebuah gunung sekitar empat belas mil dari Tuscumbia. Tempat itu disebut Fern Quarry, karena di dekatnya terdapat tambang batu kapur yang sudah lama tak terurus. Tiga sungai kecil melintasinya dengan mata air yang bersumber dari bebatuan di atasnya, meloncat ke sana kemari dalam riam tawa tiap kali bebatuan mencoba menghalangi jalan mereka. Bagian ujungnya dipenuhi pakis yang menutupi seluruh alas batu kapur dan di tempat-tempat yang menyembunyikan aliran. Bagian lainnya penuh dengan pohon-pohon berkayu tebal. Disini terdapat pohon ek besar dan pohon-pohon berdaun hijau yang elok dengan batang pohon menyerupai tiang-tiang berlumut yang cabang-cabangnya terkalungi tanaman menjalar, dan pohon-pohon kesemek, yang aromanya bisa tercium dari tiap sudut hutan. Bau harum yang bisa membuat hati menjadi tenang. Di tempat itu, tanaman-tanaman liar tumbuh merambat dan menggantung dari satu pohon ke pohon lain, membentuk tempat teduh yang selalu dipenuhi kupu-kupu dan serangga sangat menyenangkan menenangkan pikiran di lembah yang hijau itu kala senja, dan mencium aroma yang segar dan wangi yang datang dari bumi saat menutup hari.

Pondok kami berdiri cantik di antara pohon ek dan cemara. Ruangan-ruangan kecil tertata di setiap sisi ruang panjang terbuka. Di sekeliling rumah terdapat serambi yang luas, di mana angin gunung berhembus leluasa, dengan aroma wewangian kayu. Kami lebih sering tinggal di serambi itu. Di tempat itu kami bekerja, makan, dan bermain. Di belakang rumah terdapat pohon butternut besar. Di sekelilingnya sudah dibangun tangga, dan di depannya pepohonan berdiri begitu dekat, hingga aku bisa menyentuhnya dan merasakan angin menerpa cabang pohon itu, atau daun-daunnya yang berjatuhan saat musim gugur.

Banyak pengunjung yang berdatangan ke Fern Quarry. Pada malam hari, di dekat api unggun, para lelaki bermain kartu dan menghabiskan waktu dengan berbincang dan menggerakkan badan. Kadang mereka bercerita bagaimana mereka bisa menaklukkan hewan unggas, ikan dan binatang berkaki empat: seberapa banyak bebek dan kalkun yang sudah mereka tembak, berbagai jenis ikan buas yang bisa mereka tangkap, dan bagaimana mereka membunuh rubah ganas, dan menjebak possum tercerdik dan mengejar rusa yang kabur. Sampai-sampai aku berpikir bahwa pastilah singa, macan, beruang, dan hewan liar lainnya akan dibuat terkapar tak berdaya oleh para pemburu lihai ini.

“Besok kita berburu!” itulah salam perpisahan saat lingkaran teman yang bersukacita itu pecah untuk istirahat. Para lelaki tidur di ruang luar, dan aku dapat merasakan nafas anjing-anjing dan para pemburu saat mereka terbaring di atas alas seadanya.

Menjelang fajar, aku terbangun oleh aroma kopi, desingan senapan, dan langkah berat para lelaki yang menjanjikan keberuntungan besar di musim berburu itu. Aku juga merasakan derap kaki kuda, yang sudah menempuh perjalanan dari kota dan diikat di bawah pohon. Sepanjang malam kuda-kuda itu berdiri dan meringkik, yang sepertinya ingin melepaskan diri dari tali kekangnya. Akhirnya para lelaki pun siap, dan sambil menyanyikan lagu-lagu lama, mereka menuju ke kuda-kuda mereka dengan gemerincing kekang dan lecutan cemeti dan anjing-anjing berlarian. Lalu berangkatlah para pemburu itu “dengan teriakan dan sorak-sorai dan suara liar: halloo!”

Berikutnya, kami menyiapkan bumbu membuat barbecue. Api menyala dari lubang yang dibuat masuk ke tanah, tiga batang kayu kami silangkan di atasnya, dan daging kami gantung pada kayu tersebut. Di sekitar perapian duduk orang kulit hitam sambil mengusir lalat dengan batang kayu yang panjang. Aroma daging yang terpanggang itu membuatku sangat lapar.
Saat kesibukan dan kemeriahan persiapan mencapai puncaknya, rombongan pemburu datang dua-dua atau tiga-tiga. Mereka kepanasan dan kelelahan. Kuda-kuda diselimuti busa. Anjing pemburu kelelahan dan terengah-engah—dan tak satu pun yang terbunuh. Setiap orang mengatakan bahwa ia sudah melihat setidaknya satu rusa, dan hewan itu berada sangat dekat dengannya. Namun betapapun bersemangatnya anjing-anjing itu mengejar buruannya, betapapun baiknya senapan diarahkan, pada saat picu ditarik, tak ada rusa yang terlihat. Cerita mereka mirip anak kecil yang mengatakan melihat kelinci dekat sekali—anak kecil itu melihat jejaknya. Namun, pesta yang kami adakan malam itu telah menghilangkan segala lelah dan kecewa. Kami duduk-duduk bukan untuk meyantap daging rusa tetapi daging sapi dan babi panggang.

Sumber : https://busbagus.co.id/