Agama

Memahami kandungan Hadits dengan menggunakan Asbabul Wurud

Memahami kandungan Hadits dengan menggunakan Asbabul Wurud

Memahami kandungan Hadits dengan menggunakan Asbabul Wurud

 

Memahami kandungan Hadits dengan menggunakan Asbabul Wurud
Memahami kandungan Hadits dengan menggunakan Asbabul Wurud

1. Al-Ibrah bi Khusus al-Sabab la bi umum al-Lafdzi dan penerapannya

Seperti diketahui setiap asbabul wurud pasti didalamnya mencakup peristiwa, pelaku, waktu. Tidak mungkin mampu menggambarkan adanya suatu peristiwa yang tidak terjadi dalam kurun waktu tertentu dan tanpa pelaku. Sedangkan dalam kaitannya dengan asbab wurud sebagian ulama’ berpegang pada kaidah “al-Ibrah bi Khusus al-Sabab la Bi umum al-Lafdzi” yaitu patokan dalam memahami ayat atau hadits adalah kasus yang menjadi sebab turunnya, bukan redaksinya yang bersifat umum.

Ulama’ telah membahas telah membahas hubungan antara sebab yang terjadi dengan ayat yang turun. Hal ini dianggap penting, karena sangat erat kaitannya dengan penerapan hukum, sebagai akibat darinya, berdasarkan bunyi lafadznya, atau terkait dengan sebab berhadapan, yang masing-masing berbunyi :
العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب
“yang menjadi ibrah (pegangan) ialah keumuman lafadz, bukan kekhususan sabab”
العبرة بخصوص السبب لا بعموم اللفظ
“yang menjadi ibrah (pegangan) ialah kekhususan sabab, bukan keumuman lafadz”
Al-Zarqani dalam mengawali pembahasan tentang hubungan antara sebab dengan jawaban sebagai akibat atas sebab itu menyatakan, bahwa jawaban atas suatu sebab ada dua kemungkinan;

Jawaban itu dalam bentuk pernyataan yang bebas, dalam arti berdiri sendiri atau terlepas dari sebab yang ada.
Jawaban itu dalam bentuk pernyataan yang tidak bebas, dalam arti tetap terkait secara langsung dengan sebab yang ada.
Sebagian ulama’ lain berpendapat, bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus, bukan lafadz yang umum, karena lafadz yang umum itu menunjukkan bentuk sebab yang khusus. Oleh karena itu dapat diberlakukan kepada kasus selain sebab diperlukan dalil lain seperti kias dan sebagainya, sehinggan pemindahan riwayat sebab yang khusus itu mengandung faedah, dan sebab tersebut sesuai dengan musababnya seperti halnya pertanyaan dengan jawabannya.

Penerapan kaidah al-Ibrah bi Khusus al-Sabab la bi Umum al-Lafdzi dalam Hadits

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
(BUKHARI – 4073) : Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Haitsam Telah menceritakan kepada kami Auf dari Al Hasan dari Abu Bakrah dia berkata; Sungguh Allah telah memberikan manfaat kepadaku dengan suatu kalimat yang pernah aku dengar dari Rasulullah, -yaitu pada waktu perang Jamal tatkala aku hampir bergabung dengan para penunggang unta lalu aku ingin berperang bersama mereka.- Dia berkata; ‘Tatkala sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa penduduk Persia telah di pimpin oleh seorang anak perempuan putri raja Kisra, beliau bersabda: “Suatu kaum tidak akan beruntung, jika dipimpin oleh seorang wanita.”

Perlu diketahui bahwa asbab wurud hadits ini adalah pernyataan Rasulullah terkait gaya kepemimpinan anak perempuan kaisar persia yang mengantikan Kisra ayahnya. Ia dibunuh oleh anak laki-lakinya. Sebelum matinya, Kisra mengetahui bahwa ia dibunuh oleh ayahnya sendiri, Syairuwiyah, maka ia memerintahkan kepada pembantunya yang setia untuk membunuh ayahnya setelah ia mati. Berselang enam bulan sejak kematian ayahnya, Syairuwiyah mati dengan cara diracun. Pada saat itu tidak ada yang menggantikan kedudukan raja, karena disamping membunuh ayahnya, Syairuwiyah juga membunuh saudaranta yang lain karena ambisi untuk menduduki tahta kerajaan, kecuali anak perempuannya, Buran binti Syairuwiyah bin Kisra bin Barwis. Anak perempuan inilah yang kemudian menduduki tahta kerajaan. Ia dikenal otoriter dan tidak meredam konflik antar suku di wilayah Persia. Tidak lama kemudian kerajaannya hancur berantakan, karena kepemimpinannya dianggap gagal.

Baca Juga: Ayat Kursi

Dalam konteks ini Nabi Muhammad bersabda; “Tidak akan beruntung suatu kaum yang mengangkat perempuan sebagai pemimpin mereka”. Hadits ini diungkapkan Nabi dalam rangka pemberitahuan, hanyab sebuah informasi yang disampaikan Nabi dan bukan dalam kerangka legitimate hukum dan tidak memiliki relevansi hukum.
Dengan demikian hadits diatas harus dipahami dari sisi esensinya dan tidak dapat digeneralisasikan, akan tetapi lebih bersifat spesifik untuk kasus bangsa Persia pada saat itu. Bukan merupakan larangan semua kaum sesudahnya agar tidak menyerahkan pemerintahan kepada perempuan.

2. Al-Ibrah bi ‘Umumil Lafdzi la bil Khusus al-Sabab dan penerapannya

“yang menjadi ibrah (pegangan) ialah keumuman lafadz, bukan kekhususan sabab”.
Diatas merupakan kaidah ushuliyyah yang menemukan momentumnya. Suatu saat Nabi Muhammad sebagai penyampai syari’at dari Allah memilih untuk menggumakan redaksi kata umum, sementara pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sesuatu yang lebih spesifik, maka bisa difahami bahwa yang dikehendaki memang keumumannya, disamping para sahabat dan tabi’in setelahnya juga sepakat untuk menjadikan keumuman sebuah teks sebagai pertimbangan dan hal utama yang mereka jadikan sebagai pegangan, walaupun penyebab munculnya teks-teks tersebut khusus.

Ayat yang memiliki sebab tertentu, apabila ayat itu berupa perintah atau larangan, maka ayat itu mencakup person yang bersangkutan dan person lainnya yang memiliki kesamaan khusus, atau yang sama kedudukan dan keadaannya.

Jumhur ulama’ berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah lafadz yang umum dan bukan sebab yang khusus. Hukum yang diambil dari lafadz yang umum itu melampaui bentuk sebab yang khusus pada hal-hal yang serupa dengan itu.
Penerapan kaidah al-Ibrah bi ‘Umumil Lafdzi la bil Khusus al-sabab dalam Hadits
Dalam persoalan mandi pada hari jum’at, imam Bukhori meriwayatkan hadits dari Abdullah Ibnu Umar sebagaimana berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ
“Apabila salah seorang di antara kalian datang untuk sholat jum’at, maka hendaklah mandi”.

Hadits ini disabdakan Nabi karena sebab khusus. Pada masa itu, kebanyakan dari para sahabat masih hidup dalam keadaan ekonomi yang sulit. Mereka memakai baju wol dan bekerja diperkebunan kurma dan memikul air diatas punggung mereka untuk melakukan penyiraman. Setelah bekerja, kebanyakan dari mereka langsung ke masjid untuk menunaikan shalat jum’at. Sehingga, bau keringat menganggu ketenangan dan kekhususan para jamaah. Kemudian, kemudian, ketika Nabi berkhutbah bersabda; “Wahai sekalian manusia, jika kalian melksanakan shalat jum’at. Hendaklah mandi terlebih dahulu, dan pakailah minyak wangi terbaik yang ada padanya”.

Jumhur ulama’ mengatakan bahwa kewajiban mandi pada hari jum’at disebabkan banyak faktor, antara lain cuaca panas yang menyebabkan berkeringat, pakaian wol yang menyimpan bau, kondisi masjid yang sempit, dan lain-lain. Namun, apabila kondisinya telah berubah, kondisi umat Islam sudah makmur, masjid-masjid yang luas, pakaian mereka terbuat dari kain yang bagus, maka ada kelonggaran untuk tidak mandi ketika hendak menunaikan shalat jum’at.

Apabila kita amati dengan baik, pendapat yang disampaikan oleh jumhur ulama’ berdasarkan kaidah “al-Ibratu bi Umum al-Lafdzi la bi Khusus al-Sabab” (yang menjadi patokan dalam memahami teks adalah keumuman teks bukan kekhususan sebabnya). Dengan memaparkan kaidah ini, maka hadits ini berlaku bagi siapa saja yang menyebabkan munculnya hadits tersebut. Isi hadits tersebut tidak mengikat kepada mereka yang kondisinya berbeda dengan perilaku peristiwa dan dalam kondisi yang berbeda.

Jika memahami hadits tersebut dilepaskan dengan asbabul wurudnya, maka bisa disimpulkan bahwa hukum mandi pada hari jum’at adalah wajib, sebagaima pendapat Daud al-Dzahiri yang cenderung memahami teks-teks agama secara harfiyah. Pendapat seperti ini muncul akibat pemahaman yang tekstual, tanpa mempertimbangkan konteks sebab yang melatar belakangi.