Pendidikan

Latar Belakang Muncul

Latar Belakang Muncul

https://apartmani-rada.com/2020/04/24/battlestation-harbinger-apk/Latar Belakang Muncul

Latar Belakang Muncul

Dahulu para sahabat di masa Rasulullah saw memahami al-Qur`an dengan “naluri” kearaban mereka. Dan jika terjadi kesulitan dalam memahami sesuatu ayat, mereka langsung menyakannya kepada Rasulullah saw dan beliau pun lalu menjelaskannya kepada mereka.

Setelah Rasulullah saw wafat dan permasalahan-permasalahan baru mulai muncul, maka mereka beristimbat dengan al-Qur`an untuk menetapkan hukum-hukum syara’ bagi permasalahan baru tersebut. Mereka pun bersepakat atas hal tersebut dan jarang sekali mereka berselisih pendapat ketika terdapat kontradiksi (dalam lafadz).

Ketika tiba masa empat imam fiqh dan setiap imam membuat dasar-dasar istimbat hukum masing-masing dalam madzhabnya, bebagai peristiwa terjadi dan permasalahan-permasalahan pun semakin beragam, maka semakin bertambah pula aspek-aspek perbedaan pendapat dalam memahami ayat, hal ini disebabkan perbedaan segi dalalahnya (petunjuknya), bukan karena fanatisme terhadap suatu mazhab, melainkan karena setiap ahli fiqih berpegang pada apa yang dipandangnya benar. Karena itu ia tidak memandang dirinya hina jika ia mengetahui kebenaran pada pihak lain, untuk merujuk kepadanya.

Keadaan tersebut tetap stabil sampai tiba masa taklid dan fanatisme madzhab. Maka pada masa ini para pengikut imam hanya terfokus pada penjelasan dan pembelaan madzhab mereka, sekalipun mereka harus membawa ayat-ayat al-Qur`an kepada makna yang lemah dan jauh. Dan sebagai akibatnya maka muncullah “Tafsir Fiqih” yang khusus membahas ayat-ayat hukum dalam al-Qur`an. Di dalamnya terkadang fanatisme madzhab menjadi semakin memuncak dan terkadang pula mereda.[3]

  1. Perkembangan Tafsir Fiqih

Sebenarnya keberadaan Fafsir Fiqih ini sudah lama adanya, kehadirannya bersamaan dengan diturunkannya Al-Quran kepada Rasulullah SAW selaku manusia pertama yang mempunyai otoritas dalam memberikan Tafsir Fiqih atas ayat yang diturunkan kepadanya.

Otoritas ini diberikan langsung oleh Allah SWT kepada baginda Muhammad SAW:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“…dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (QS. An-Nahl: 44)

Lalu sepeninggal Rasulullah SAW penafsiran fiqih dilanjutkan oleh para sahabat yang benar-benar memumpuni dibidangnya, tidak asal sahabat berhak dan berani menafsirkan, sekaliber Abu Bakar pun rada takut, kalau – kalau apa yang ditafsirkannya berseberangan dengan apa yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya, beliau berujar: “Langit mana yang menaungiku dan bumi mana yang membawaku, jika aku berkata tentang Al-Quran sesuatu yang tidak aku mengerti”

Pada fase ini sudah mulai muncul perdebatan dan perbedaan pendapat dalam menafsirkan ayat-ayat hukum, perbedaan ini adalah sebuah keniscyaan, seiring dengan munculnya permasalah baru yang belum pada masa Rasulullah SAW masih hidup.

Keberadaan khilaf dalam penafsiran ini bukanlah menjadi momok yang harus diatjuti, asalkan perbedaan itu bersumber dari mereka yang benar-benar layak untuk memberikan penafsiran.

sumber :

Battlestation Harbinger 2.0.3 Apk + Mod Money