Klasifikasi Ekologis Air Tawar

Klasifikasi Ekologis Air Tawar

Klasifikasi Ekologis Air Tawar

Klasifikasi Ekologis Air Tawar
Klasifikasi Ekologis Air Tawar

Klasifikasi Ekologis Organisme Air Tawar

: Habitat air tawar merupakan perantara habitat laut dan habitat darat. Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup.

1. Berdasarkan aliran energi

Organisme dibagi menjadi 3 yaitu :
* Autotroph (produsen), tanaman hijau dan mikroorganisme kemosintetik.
* Phagotroph (konsumen makro), herbivora, predator, parasit.
* Saprotroph (konsumen mikro atau pengurai), diklasifikasikan sesuai dengan bahan organik yang diuraikan.

2. Berdasarkan kebiasaan hidup

Organisme dibedakan sebagai berikut yaitu :

a. Plankton
Terdiri alas fitoplankton dan zooplankton, organisme mengapung yang arah pergerakannya kira-kira tergantung arus. Walaupun beberapa zooplankton menunjukkan gerakan berenang yang aktif yang membantu mempertahankan posisi vertical, plankton secara keseluruhan tidak dapat bergerak melawan arus.
b. Nekton
Organisme yang dapat berenang dan bergerak dengan kemauan sendiri, misalnya ikan, amfibi, serangga air besar.
· Neuston
Organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air.
· Perifiton
Merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong.
· Bentos
Hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup pada endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas, misalnya cacing dan remis.

Manfaat Ekosistem Air Tawar

Beberapa fungsi atau manfaat ekosistem air tawar adalah sebagai berikut:
1. Sebagai sumber plasma nutfah yang berpotensi sebagai penyumbang bahan genetik
2. Sebagai tempat berlangsungnya siklus hidup jenis flora/fauna yang penting
3. Sebagai sumber air yang dapat digunakan langsung oleh masyarakat sekitarnya (rumahtangga, industri dan pertanian)
4. Sebagai tempat penyimpanan kelebihan air yang berasal dari air hujan, aliran permukaan, sungai-sungai atau dari sumber-sumber air bawah tanah
5. Memelihara iklim mikro, di mana keberadaan ekosistem danau dapat mempengaruhi kelembaman dan tingkat curah hujan setempat
6. Sebagai sarana tranportasi untuk memindahkan hasil-hasil pertanian dari tempat satu ke tempat lainnya
7. Sebagai penghasil energi melalui plta
8. Sebagai sarana rekreasi dan objek pariwisata.

Perairan Air Tawar dengan Kualitas baik

Bersumber dari jurnal ekologi perairan yang dikeluarkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada Yogjakarta pada tahun 2011 menyatakan bahwa Sungai Tambak Bayan yang berada di daerah Yogjakarta memiliki kualitas yang baik, hal ini berarti tingkat pencemarannya masih tergolong rendah. Kondisi tersebut dapat dilihat dari adanya kelompok bentos yang hidup menetap (sesile) dan daya adaptasi yang bervariasi. Sebuah perairan yang tercemar ditandai dengan kandungan CO yang lebih besar bila dibandingkan dengan kangdungan oksigennya (O2). Terdapat korelasi antara tingkat pencemaran air dengan organisme yang hidup dalam sebuah perairan air tawar. Semakin tinggi kadar CO , maka kepadatan populasi semakin rendah. Semakin tinggi kadar O2 dan kecerahan air maka kepadatan populasi semakin tinggi. Dalam penelitian terdapat tiga stasiun pengamatan pada penggal sungai yang sama. Dari ketiga stasiun pengamatan,stasiun I menunjukkan nilai densitas terendah. Rendahnya kerapatan ini menunjukkan bahwa lingkungan perairan pada stasiun I tidak kondusif untuk kehidupan gastropoda yang ada di dalamnya. Hal ini disebabkan karena pada stasiun I didapatkan kondisi sungai yang telah dimanfaatkan untuk banyak kebutuhan manusia sehingga terjadi degradasi kualitas ekosistem dan terjadi pencemaran bahan-bahan yang tidak disukai gastropoda atau organisme lainnya. Buruknya kualitas air jika dibandingkan dengan stasiun lain ini dibuktikan dengan tidak adanya keragaman spesies pada stasiun ini. Pada stasiun ini hanya ditemukan satu jenis gastropoda yaitu keong. Stasiun II indeks densitas gastropodanya merupakan yang paling tinggi. Kerapatan populasi pada stasiun II lebih tinggi karena jenis substrat berupa batuan, lumpur, dan pasir. Selain itu kandungan oksigen terlarut (5,53 ppm) lebih tinggi dari kandungan CO2 bebas (4,3 ppm). Oksigen dibutuhkan organisme dalam melakukan proses respirasi. Faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah jenis subsrat dasar, kandungan oksigen terlarut, kandungan karbondioksida, serta kedalaman dan kecerahan air. Sedang faktor yang kurang berpengaruh adalah pH substrat, suhu air dan suhu udara. Meskipun masih tergolong baik namun meningkatnya aktivitas manusia di bantaran sungai dalam pemenuhan kebutuhannya mengancam terjadinya degradasi kualitas lingkungan perairan sehingga perlu dilakukan pengelolaan terpadu untuk menjaganya agar tetap terpelihara dengan baik dan terkontrol.

Baca Juga: