Kemenpora dan STEI Tazkia Gelar Millennials Movement

Kemenpora dan STEI Tazkia Gelar Millennials Movement

Kemenpora dan STEI Tazkia Gelar Millennials Movement

Kemenpora dan STEI Tazkia Gelar Millennials Movement
Kemenpora dan STEI Tazkia Gelar Millennials Movement

Kementerian pemuda dan Olahraga (kemenpora) menggandeng 22 perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek untuk menyelenggarakan kuliah umum dengan tujuan membangkitkan semangat berwirausaha bagi mahasiswa dan generasi milenial pada umumnya.

Kuliah umum itu digelar lewat kerja sama kemenpora dengan STEI Tazkia, mengambil tema “Millennial Movement” dan berlangsung di Andalusia Islamic Center, Sentul city, Bogor, Jumat (21/6/2019).

Sejumlah pembicara terkemuka dihadirkan mewakili bidang wirausaha yang berbasis teknologi,

antara lain Prof Dr Nurul Taufiqurrochman, Krisna Satria Gunawan, dan Aditya Triantoro.

Taufiq, sapaan akrabnya, sebagai founder Nano Center Indonesia, memaparkan peluang Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2050 dengan mengoptimalkan economic driver atau penggerak ekonomi yang dimiliki, yaitu demografi, sumber daya alam, infrastruktur, dan meningkatnya spending power (daya beli) masyarakat Indonesia.

Taufiq juga menceritakan pengalaman dan hasil kerjanya dalam mengoptimalkan teknologi nano yang mampu mengubah 1 kg kunyit dengan harga Rp 2.000 menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi dengan kisaran harga Rp 2,5 juta/kg.

Sesi kedua adalah workshop bersama Krisna Satria Gunawan selaku pendiri CIBO SYARFI.

Perusahaan ini bergerak di bidang fintech peer to peer lending syariah yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang memiliki kelebihan dana, dengan prinsip kerja cepat, mudah, aman, dan halal.

Aditya Triantoro, co-founder Nussa & Rara, membahas konsep yang unik dalam industri hiburan yang terbukti mampu menarik pasar. Aditya mempresentasikan animasi berdurasi tiga menit yang menonjolkan konsep green, lifetime, dan forever.

Aditya berpesan kepada seluruh peserta yang hadir bahwa berbisnis itu bukan hanya untuk kepentingan dunia saja, tetapi harus ada nilai manfaat dan keberkahan di dalamnya.

“Jangan hanya berbisnis untuk tujuan dunia semata, tapi buatlah perubahan, niat everlasting

(tahan lama), bangunlah sebuah produk yang punya nilai dan manfaat,” lanjut Aditya.

Acara ini merupakan fase pertama dari empat fase, atau tahapan yang yang dapat dilalui peserta kegiatan sampai pada akhirnya peserta mampu mengimplementasikan ide menjadi bisnis yang konkret.

Alumni program akan mendapatkan coaching pasca pelatihan dan mentoring untuk meningkatkan kualitas produk dan kolaborasi bisnis antarpelaku.

Selanjutnya kemenpora akan mengembangkan kolaborasi dengan berbagai pelaku untuk pengembangan kewirausahaan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi dan komunitas-komunitas kewirausahaan.

 

Sumber :

http://riskyeka.web.ugm.ac.id/sejarah-rajapatih-makasar-kebo-parud/