Karya-karyanya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Karya-karyanya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Karya-karyanya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Karya-karyanya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Karya-karyanya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Karya-karyanya

Karyanya yang paling masyhur yaitu al-Ghunya li Thalibi Thariqi al-Haqq (Kecukupan bagi pencari-pencari Kebenaran). Salah satu edisinya terbit di Mesir pada tahun 1288. Didalamnnya memuat khotbah sang sufi terkena ibadah dan akhlak, cerita-cerita tentang etika, keterangan terkena 73 aliran-aliran Islam yang terbagi dalam 10 bagian.

Intinya pendidikan untuk menjadi Muslim yang baik. Karya ini dikenal sebagai fikih-tasuwuf yang mencernakan. Keterangannya ringkas, namun menyeluruh dan praktis dipahami oleh orang awam sekalipun dan juga tidak kehilangan bobot ilmiahdan intelektualitasinya.

Beberapa karya lainnya yaitu al-Fath al-Rabbany yang meliputi 62 Khotbah yang disampikan dalam tahun 545-546 H (1150-1152 M). Kitab kesufiannya yang terkenal yaitu Futuh al-Ghayb, meliputi 78 buah khotbah terkena banyak sekali macam subjek keagamaan. Kitab ini meliputi antara lain ajaran-ajaran sepurat adat (tasawuf’ amali) disertai dengan silsilahnya dan keterhubungannya dengan Abu Bakar serta Umur. Secara khusus, kitab ini dianalisis oleh Walter Braune dengan judul Die Futuh al-Gaib” des Abdul Qadir (Berlin & Leipzig, tahun 1933).

Karya utuhnya terkena seluk-seluk tasawuf berjudul Sirr al-Asrarfi ma Yahtaju Ilayhi al-Arbar (rahasia terdalam dari segala belakang layar dalam menerangkan yang diharapkan oleh andal kebajikan). Di dalamanya dibahas secara menyeluruh tentang syariat, terikat, dan hakikat. Berisi satu mukamidah beserta 24 pasal, baik teologi-kalam, fikih-syari’at, maupun tasawuf (terikat, haqikat dan makrifat). Kitab ini menjadi rujukan pokok pada penpenghasilanan tasawuf pada ribath Qadariyyah-Naqsyabandiyyah Jabal Qubais, Mekkah.

Selain karya tersebut, kitab lainnya yaitu Al-Mawahib al-Rahmaniyyah wa al-Futuh al-Rabbaniyah fi Maratib al-Akhlaq al-Sawiyah wa al-Maqamat al-Irfaniyyat; Djala’ al-Khatir, yaitu berupa kumpulan khotbah yang diperkirakan disampaikan pada tahun-tahun sehabis 546 H; Yawakit al-Hikam; Mulfadzat -I Jalali; Syarh-I -Ghautsiyah va Ghayra; Al-Fuyudhatal-Rabbaniyyah fi al-Aurad al-Qadarriyah, koleksi terkena sembahyang dan praktik ritual (salah satu edisinya terbit di Kairo, 1303 H); dan Hizb Basha’ir al-Khayrat, meliputi doa-doa dan klarifikasi duduk kasus shalat syariat dan tarikat (salah satu edisinya terbit di Alexandria, 1304 H).

Dibanding ajaran-ajarannya, justru pengenalan masyarakat terhadap Syekh Abdul Qadir lebih mayoritas pada keajaiban-keajaiban, keluarbiasaan, dan kesaktian/keampuhannya yang bersumber pada kitab-kitab manakib yang beredar di kalangan masyarakat.

Kisah hidup pertama (terkena keajaiban al-Jailani) terdapat dalam kitab Bahjah al-Asrar karangan Ali bin Yusuf al-Syattanaufi (w 713/1314). Taqiy al-Din Abdurrahman al-Wasithi (w 1343) menulis manakib al-Jailanidalam kitab Tirayaq al-Muhibbin fi thabaqat khirqat al-masyayikh al-arifin (masih terbit di Kairo tahun 1305/1888).

Tak usang kemudian, muncul ‘Afif al-Din al-Yafa’i (wafat 1367). Yang mengarang kitab yang makin memantapkan nama al-Jailani sebagai andal keajaiban yang terbesar dalam kitab Khulasha al-Mufakhir fi ikhtishar Manaqib Al-Syaikh Abdul Qadir. Kitab terakhir ini menjadi dasar beberapa versi manakib yang beredar di Indonesia.

Sesudah Yafi’i, beberapa ulama mengarang kitab yang lebih ekstrim lagi dan yang paling penting diantaranya yaitu kitab Lujjain al-Dani oleh Ja’far bin Hasan Al-Barazanji. Pengarang yang dikenal di Indonesia dengan Kitab Barazanjinya

Tanda-Tanda Kesufian Syekh Abdul Qadir Jailani

Baca Juga: Ayat Kursi

Syekh Abdul Qadir Jailani memang termasyhur sebagai seorang sunnatulawliya (penghulu para wali Allah) yang banyak mempunyai karamah, bahkan semenjak sebelum ia lahir, ketika masih dalam kandungan ibunya yang berjulukan Fatimah binti abdullah al-sama’i al-husaini dan ayahandanya berjulukan Abu Shalih Musa Zanki Dausath, bermimpi bertemu Rasulullah bersama sejumlah teman dekat, para mujahidin, dan para wali. Dalam mimpinya Rasulullah bersabda kepadanya :”Wahai Abu Shalih, Allah akan memdiberi amanah seorang anak pria yang kelak akan menerima pangkat tinggi dalam kewalian, sebagaiman Aku menerima pangkat teringgi dalam kenabian dan kerasulan.

Saat Syekh Abdul Qadir Jailani dilahirkan pada 1 ramadhan 471 hijriyah di desa Jilan, akrab Tabaristan Irak, sang ibundanya sudah berusia 60 tahun dan bukan usia yang lazim lagi perepuan yang biasanya melahirkan. Keajaiban lainnya tak ibarat bayi pada umumnya, Syekh Abdul Qadir Jailani tak pernah menyusui kepada bundanya disiang hari di bulan ramadhan, sang bayi gres menangis minta disusui ketika matahari tenggelam di ufuk barat yang membuktikan hadirnya waktu magrib dan uniknya keguahan itu dimanfaatkan oleh masyarakat jihan sebagai tanda waktu untuk berbuka puasa dan juga waktu imsak.