Perikanan

Jiwa dan Sipatnya

Jiwa dan Sipatnya

Tulisan al-Kindi Tentang Akal Budi, tulisan-tulisan itu mencakup lima buah tulisannya yang terdaftar dalam al-Fihrist, yang diantaranya hanya dua yang sampai kepada kita. Disamping itu ada sebuah catatan berjudul: Suatu Risalah Oleh al-Kindi Mengenai Jiwa, singkat dan ringkas. Dengan cara yang tak dapat dipahami risalah ini menggarap hubungan jiwa dan badan, dan berusaha menunjukkan bahwa ide-ide Plato dan Aristoteles mengenai hubungan ini dapat diserasikan. Tulisan-tulisan yang sedikit ini luar biasa pentingnya dan sangat menarik karena memberikan penerangan tentang asal-muasal psikologi Muslim-Arab dan khususnya tentang ramalan alami.
Mengenai hakikat jiwa, al-Kindi menentang konsepsi materialistis apapun. Kebanyakan orang-orang muslim ortodoks dan juga kaum materialis seperti ad-Dahriyah percaya bahwa jiwa terdiri dari suatu bahan sangat halus dan lembut yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Tetapi tidaklah jelas, apakah yang dimaksudnya adalah kedua kelompok tersebut ketika dalam tulisannya bahwa ada substansi-substansi tanpa bahan ia membuktikan bahwa ide-ide Epicurus dan Stoik yang berpegang bahwa substansi-substansi, termasuk jiwa, terdiri dari materi.
Menurut al-Kindi, jiwa adalah “tunggal dan bersifat sempurna dan mulia”. Esensinya berasal dari esensi Sang Pencipta, seperti halnya sinar matahari berasal dari matahari. Telah dijelaskan bahwa jiwa terpisah dari badan dan berbeda daripadanya, dan bahwa esensinya adalah ilahi dan spiritual menilik akan keunggulan sipatnya dan kejijikannya terhadap nafsu dan keberingasan yang membinasakan badan. Jika jiwa itu bersipat ilahi, maka ini berarti bahwa manusia dapat mencapai suatu keadaan sebaik-baiknya, kemuliaan dan kebahagiaan di dunia ini dan juga di dunia lain dengan mensucikan jiwa dari segala pencemaran material. Seperti halnya cermin yang digosok memantulkan bentuk semua benda, demikian pula jiwa yang digosok, yakni jiwa yang disucikan, mampu memantulkan misteri-misteri alam semesta yang tersembunyi. Menurut Plato dengan meninggalkan badan dan kembali ke dunianya sendiri, dunia keilahian, maka jiwa itu memperoleh suatu kesanggupan untuk pengetahuan dan mengetahui apa yang akan terjadi, mirip dengan Yang Kuasa.
Jiwa itu tunggal dan kalau terpisah dari badan di waktu tidur, mampu melihat yang akan datang. Lagi pula, jiwa selalu waspada, tidak pernah tertidur, dan abadi. Selama tidur, jiwa itu hanya mengendorkan pengendaliannya atas indera-indera, tetapi tidak kehilangan kesadaran. Jiwa itu baqa dan kehadirannya di dunia ini bersifat fana atau sementara. Bumi ini hanyalah suatu ‘jembatan’ ke dunia surgawi yang lebih mulia di mana jiwa-jiwa bersemayam dengan abadi di dekat Sang Pencipta. Di surga ini jiwa-jiwa itu dapat melihat-Nya secara akali bukan secara inderawi.
Al-Kindi nampaknya tidak percaya kepada hukuman jiwa yang abadi. Ia percaya kepada penyelamatan jiwa yang terakhir. Tetapi tidak semua jiwa langsung berakhir di dalam alam surgawi, tuturnya. Beberapa dari jiwa yang terlepas dari badan-badannya, karena terlekati ketidaksucian tertentu sehingga tercegah untuk selang beberapa waktu dalam pencapaiannya ke alam surgawi tersebut. Jiwa-jiwa tadi harus tinggal dalam sfera-sfera Bulan dan kemudian Merkurius hingga tersucikan seluruh dari ketidaksuciaan material. Lalu, dengan melewati sfera yang paling atas, jiwa-jiwa itu naik ke alam akali. Tempat kediaman dalam “purgatory” (tempat di mana arwah-arwah disucikan) dari sfera-sfera planit-planit, ini nampaknya cukup untuk menyelamatkan semua jiwa. Al-Kindi berbeda debgan orang-orang muslim ortodoks yang percaya bahwa pada akhirnya hanya jiwa-jiwa muslim yang akan diselamatkan, mengatakan bahwa penyelamatan adalah semacam pensucian yang berakhir dalam gnosis.
Dengan menggambarkan bumi ini sebagai sebuah jembatan bagi jiwa. Al-kindi dengan melukiskan bumi sebagai ‘jembatan’ akan nampak berpraduga bahwa jiwa pada mulanya penghuni dalam keabadian, melewati masa kesementaraan di atas ‘jembatan’ bumi agar memasuki kembali keabadian. Sebuah petunjuk lainnya berupa suatu tulisan al-Kindi yang hilang yang berjudul Tentang Kenang-Kenangan Jiwa dalam dunia yang dapat terpahami sebelum turun ke dunia yang dapat terinderai. Bukti ini akan memperkuat pandangan bahwa al-Kindi percaya akan pra-eksistensi jiwa itu. Tetapi istilah ‘jembatan’ mungkin hanya suatu tamsil retoris tanpa makna filosofis. Sedangkan kita tidak yakin isi tulisan yang hilang itu. Oleh karena itu, sampai kita mempunyai bukti yang lebih kuat, akan terlalu mengandung resikolah jika kita mengukuhkan bahwa al-Kindi beranjak dari pandangan Islami yang diterima tentang penciptaan jiwa dan kebaqaannya.
sumber ;