Pendidikan

Hukum Kurban

Hukum Kurban

Hukum berqurban adalah sunnah muakkadah bagi kita artinya kesunnahan yang sangat ditekankan. Namun bagi Rasulullah SAW berqurban adalah wajib sebagai kekhususan beliau. Kesunnahan tadi terbagi dua ada kalanya sunnah kifayah yaitu bagi tiap-tiap muslim yang sudah baligh, berakal, memiliki kemampuan untuk berqurban dan hidup dalam satu keluarga. Artinya jika ada salah satu anggota keluarga berqurban, maka gugurlah tuntutan untuk berqurban dari tiap-tiap anggota keluarga itu. Namun tentunya yang mendapat pahala qurban adalah khusus bagi orang yang melakukannya.Dan ada kalanya hukum qurban sunnah ‘ain yaitu bagi mereka yang hidup seorang diri, tidak memiliki sanak saudara. Atau dengan kata lain sunnah ‘ain adalah sasaran kesunnahannya ditujukan pada indifidu atau personal semata.

Yang dimaksud ‘memiliki kemampuan’ disini adalah orang yang memiliki harta yang cukup untuk dibuat qurban dan cukup untuk memenuhi kebutuhannya pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyriq. Bahkan Imam As Syafi’i berkata, “Saya tidak memberi dispensasi / keringanan sedikitpun pada orang yang mampu berqurban untuk meninggalkannya”. Maksud perkataan ini adalah makruh bagi orang yang mampu berqurban, tapi tidak mau melaksanakannya (lihat: Iqna’ II/278)

Meskipun hukum qurban adalah sunnah, namun suatu ketika bisa saja berubah menjadi wajib, yaitu jika dinadzarkan. Maka konsekwensinya jika sudah menjadi qurban wajib dia dan keluarga yang dia tanggung nafkahnya tidak boleh mengambil atau memakan sedikitpun dari daging qurban tersebut.

Disunnahkan pada saat menyembelih beberapa hal, diantaranya: membaca basmalah dan sholawat kepada Rasulullah sebelum menyembelih, menghadap ke kiblat dan binatang kurban juga dihadapkan ke kiblat, mengucapkan takbir 3 kali sebelum basmalah atau sesudahnya, seperti dikatakan imam Al Mawardi dan juga disunnahkan untuk berdoa agar kurban tersebut diterima oleh Allah, seperti dia berdoa: “ Ya Allah inilah kurban dariMu dan untukMu, maka terimalah kurban ini”, maksudnya adalah “ Ya Allah binatang kurban ini sebagai nikmat dariMu kepadaku dan aku mendekatkan diriku kepadaMu dengannya maka terimalah ini” Disunnahkan bagi yang hendak berkurban untuk tidak memotong rambutnya, bulu ketiak dan kukunya pada tanggal 10 Dzul Hijjah sampai dia menyembelih binatang kurbannya.

C.    Tujuan Kurban

Berqurban adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, yang mana Allah telah memberikan rahmat yang banyak kepada umat manusia. Jika menghitung rahmat Allah yang sudah kita terima mulai dari ruh ditiupkan kedalam jasad sewaktu berada di dalam rahim. Niscaya kita tidak dapat untuk menulisnya, walaupun dijadikan lautuan sebagai tinta dan ranting yang ada dimuka bumi ini sebagai pulpen nya. walaupun ditambah satu lautan lagi niscaya tidak akan cukup.

Begitu banyak nikmat Allah yang sudah kita terima, jadi tidak ada salahnya sebagai bentuk rasa syukur, kita dianjurkan untuk berqurban. Dalil Al-Qur`an yang menyarankan kita untuk berqrban adalah, firman Allah yang artinya “Sesungguhnya telah kuberikn nikmat yang banyak. maka dirikan lah sholat,dan berqurbanlah,sesunguh nya orang-orang yang menghinamu,mereka itu orang yang terputus dari rahmat ku.” (Qs.Al-Kautsar)

Surat ini diturunkan pada saat Nabi Muhammad SAW sedang dalam keadaan berduka karena ditinggal mati oleh anaknya yang bernama Ibrahim Bin Adam Bin Muhammad.

Kebiasan kaum yahudi dikota mekah pada saat itu jika kita tidak mempunyai anak laki-laki, maka mereka termasuk orang yang sial (Abtar). Jadi, pada saat Nabi Muhammad SAW baru selesai mengerjakan sholat zuhur di masjid beliau berselisih dengan kaum yahudi, dan kaum yahudi tersebut mengolok-olok Nabi Muhammad dengan sebutan Abtar..hai Abtar. Pada saat itu Nabi Muhammad merasa sangat sedih. disaat kesedihan itulah, turun malaikat Jibril. Menyampaikan wahyu membawa surat Al-Kautsar untuk menghibur hati Nabi Muhammad.

Sumber :

https://tokopediaaplikasi.id/xiaomi-sediakan-versi-murah-mi-note-3/