Pendidikan

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Tawuran Pelajar

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Tawuran Pelajar

       Berikut ini faktor-faktor yang menyebabkan tawuran pelajar.

  1. Faktor internal

Faktor internal ini terjadi di dalam individu itu sendiri yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya dan semua pengaruh yang datang dari luar. Remaja yang melakukan perkelahian biasanya tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks. Maksudnya, ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan keanekaragaman pandangan, ekonomi, budaya dan berbagai keanekaragaman lainnya yang semakin lama semakin bermacam-macam. Para remaja yang mengalami hal ini akan lebih tergesa-gesa dalam memecahkan segala masalahnya tanpa berpikir terlebih dahulu apakah akibat yang akan ditimbulkan. Selain itu, ketidakstabilan emosi para remaja juga memiliki andil dalam terjadinya perkelahian. Mereka biasannya mudah frustasi, tidak mudah mengendalikan diri, dan tidak peka terhadap orang-orang disekitarnya. Seorang remaja biasanya membutuhkan pengakuan kehadiran dirinya ditengah orang-orang disekelilingnya.

  1. Faktor eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yaitu:

  1. Keluarga

        Keluarga adalah tempat dimana pendidikan pertama dari orangtua diterapkan. Jika seseorang anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan di dalam keluarganya. Maka setelah ia tumbuh menjadi remaja dia akan terbiasa melakukan kekerasan karena inilah kebiasaan yang datang dari keluarganya. Selain itu ketidakharmonisan keluarga juga bisa menjadi penyebab kekerasan yang dilakukan oleh pelajar. Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja. Menurut Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figur teladan yang baik bagi anak (Hawari, 1997). Jadi disinilah peran orang tua sebagai penunjuk jalan anaknya untuk selalu berprilaku baik.

  1. Sekolah

        Sekolah tidak hanya untuk menjadikan para siswa pandai secara akademik namun juga pandai secara akhlaknya. Sekolah merupakan wadah untuk para siswa mengembangkan diri menjadi lebih baik. Namun sekolah juga bisa menjadi wadah terhadap perilaku tidak baik siswa, hal ini dikarenakan hilangnya kualitas pengajaran yang bermutu. Contohnya, disekolah tidak jarang ditemukan ada seseorang guru yang tidak memiliki cukup kesabaran dalam mendidik anak muridnya, akhirnya guru tersebut menunjukkan kemarahannya melalui kekerasan. Hal ini bisa saja ditiru oleh para siswanya, lalu disinilah peran guru dituntut untuk menjadi seorang pendidik yang memiliki kepribadian yang baik.

  1. Lingkungan

      Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku remaja. Seorang remaja yang tinggal di lingkungan rumah yang tidak baik akan menjadikan remaja tersebut ikut menjadi tidak baik. Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola kekerasan dipikiran para remaja. Hal ini membuat remaja bereaksi anarkis. Tidak adanya kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar disekitar rumahnya juga bisa mengakibatkan tawuran. Hal yang menjadi pemicu tawuran tak jarang disebabkan oleh saling mengejek atau bahkan hanya saling menatap antar sesama pelajar  yang berbeda sekolah. Bahkan saling rebutan wanita pun bisa menjadi pemicu tawuran dan masih banyak lagi sebab-sebab lainnya.

sumber
https://deevalemon.co.id/seva-mobil-bekas/