Pendidikan

Analisis Terhadap Sistem Transaksi dalam PTC Berdasarkan Tinjauan Maslahat

Analisis Terhadap Sistem Transaksi dalam PTC Berdasarkan Tinjauan Maslahat

Sebagai hamba Allah, manusia harus diberi tuntutan langsung agar hidupnya tidak menyimpang dan selalu diingatkan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Sebagai  khali<fah fi al-ard} manusia ditugasi untuk memakmurkan kehidupan ini.
Dalam kerangka itulah manusia diberikan kebebasan berusaha di muka bumi ini kemakmuran kehidupan dunia ini, untuk kemakmuran kehidupan dunia ini, manusia sebagai khali<fah fi al-ard} harus kreatif, inovatif, kerja keras, dan berjuang.
Banyak sekali usaha-usaha manusia yang berhubungan dengan barang dan jasa. Dengan perkembangan ilmu dan teknologi, serta tuntutan masyarakat yang makin meningkat, melahirkan model-model transaksi baru yang membutuhkan penyelesaian dari sisi Hukum Islam.
Dalam urusan muamalah pada asalnya segala sesuatu yang diciptakan Allah itu halal, keculi jika ada nas (dalil) shahih (tidak cacat periwayatnya) dan sharih (jelas maknya) dari pemilik syariat (Allah swt) yang mengharamkanya_
Dalam bidang muamalat, terdapat beberapa kaidah-kaidah ushul fikih yang mengatur setiap jenis kegiatan muamalat yang terjadi, di antaranya yaitu:
الأصل فى المعاملة الا باحة الا ان يدل دليل على تحريمها_
Maksud kaidah ini adalah bahwa dalam setiap muamalat dan transaksi pada dasarnya boleh, kecuali yang tegas-tegas diharamkan.
Allah SWT telah menjelaskan pokok-pokok muamalat kehartabendaan yang adil dan diperbolehkan dalam  al-Qur’a>n. Adapun dasar yang dijadikan prinsip dalam muamalat kehartabendaan ada dua, yaitu:
Melarang memakan makanan yang batil.
Saling merelakan_
Berdasarkan istqra’ (penelitian empiris) dan nash-nash al-Qur’a>n maupun hadis, diketahui bahwa hukum-hukum syari’at Islam mencakup diantaranya pertimbangan kemaslahatan manusia.
Allah SWT berfirman:
وما ارسلنا ك الارحمة للعالمين_
Maslahat yang mu’tabarah (dapat diterima) ialah maslahat-maslahat yang bersifat hakiki, yaitu meliputi lima jaminan dasar:
Keselamatan jiwa
Keselamatan akal
Keselamatan keluarga dan keturunan
Keselamatan harta benda
Keselamatan keyakinan agama_
Kelima jaminan dasar itu merupakan tiang penyangga kehidupan dunia agar umat manusia dapat hidup aman dan sejahtera.
Ukuran yang menjadi tolak ukur persyaratan kemaslahatan terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
Kemaslahatan itu harus sesuai dengan maqashid al-syari’ah, semangat ajaran, dalil-dalil Kulli dan dalil Qoth’i baik Wurud maupun dalalahnya.
Kemaslahatan itu harus meyakinkan, artinya kemaslahatan itu berdasarkan penelitian yang cermat dan akurat sehingga tidak meragukan bahwa itu bisa mendatangkan manfaat dan menghindarkan mudarat.
Kemaslahatan itu membawa kemudahan dan bukan mendatangkan kesulitan diluar batas, dalam arti kemaslahatan itu bisa dilaksanakan.
Kemaslahatan itu memberi manfaat kepada sebagian besar masyarakat bukan kepada sebagian kecil masyarakat._
sumber :