20 Siswa di Depok Mengadu ke Kanwil Jabar karena Terlempar ke Sekolah yang Lebih Jauh

20 Siswa di Depok Mengadu ke Kanwil Jabar karena Terlempar ke Sekolah yang Lebih Jauh

20 Siswa di Depok Mengadu ke Kanwil Jabar karena Terlempar ke Sekolah yang Lebih Jauh

20 Siswa di Depok Mengadu ke Kanwil Jabar karena Terlempar ke Sekolah yang Lebih Jauh
20 Siswa di Depok Mengadu ke Kanwil Jabar karena Terlempar ke Sekolah yang Lebih Jauh

Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 masih menyisakan masalah.

Sebanyak 20 orang siswa asal Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat, justru tidak diterima di SMA Negeri 1 Depok dan terlempar ke sekolah di kecamatan lain yang lebih jauh. Padahal, SMA 1 Depok adalah sekolah negeri satu-satunya yang terdekat dari wilayah Kecamatan Beji, Depok.

“Nilai NHUN anak saya 37,85, itu cukup besar, dan jarak rumah saya di Beji ke SMA 1 Depok 1,5 km, tetapi anak saya tidak diterima di SMA 1 Depok karena bersaing dengan anak lain dari kecamatan yang justru lebih jauh jaraknya. Padahal prinsip zonasi bukankah lebih memprioritaskan jarak rumah yang lebih dekat ke sekolah?” keluh Adi Sofa, orang tua dari salah satu peserta didik baru kepada Beritasatu.com di Depok, Senin (24/6/2019).

Menurut Adi Sofa, putranya mendaftar ke SMA 1 Depok melalui jalur Kombinasi,

yaitu nilai NHUN plus jarak rumah ke sekolah. Sebelumnya dia optimistis anaknya bisa diterima di SMA terfavorit di kota Depok itu mengingat nilai NHUN yang cukup tinggi dan jarak rumah yang cukup dekat. “Mirisnya, ada 20 anak, termasuk anak saya dari kecamatan Beji dengan nilai NHUN 368 hingga 380,5 justru tidak masuk SMA 1 Depok dan terlempar ke SMA yang lebih jauh, yaitu SMA 2 atau SMA 3 Depok,” jelas Adi.

PPDB 2019 mengatur Jalur dan Kuota SMA Negeri dengan persentase 90% untuk Zonasi, 5% Prestasi, dan 5% Perpindahan Orang Tua. Jalur Zonasi kemudian terbagi lagi menjadi 55% Zonasi Jarak, 20% Keluarga Ekonomi Tidak Mampu & ABK, 15% zonasi kombinasi (Nilai UN & Jarak). Jalur Prestasi terbagi menjadi Nilai UN dan Non UN.

Di bawah Forum Pemerhati Pendidikan Kombinasi UN-Jarak (Fordikom) Depok

, Adi Sofa mewakili orang tua lainnya pun melayangkan surat ke Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II, Dinas Pendidikan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat yang berlokasi di Bogor. Surat diterima oleh staf Bapak Dendi pada Senin (24/6/2019).

“Melalui surat tersebut, kami mengajukan permohonan pembagian zona PPDB SMA Kota Depok yang lebih adil. Faktanya, Kecamatan Sukmajaya dan kecamatan Cimanggis memiliki dua pilihan sekolah yang lebih dekat, yaitu SMA 2 dan SMA 3 Depok, tetapi mengapa masih diperbolehkan mendaftar di SMA 1 Depok? Sedangkan kami di Kecamatan Beji hanya memiliki satu pilihan saya, yaitu SMA 1 yang justru paling dekat dari Beji,” ujar Adi.

“Jadi, kami mohon Bapak Gubernur untuk membagi zona di Depok lebih dari satu zona, yaitu zona Depok Barat dan zona Depok Timur tanpa melihat batas kecamatan, dengan batas tengah adalah jalan Margona Raya. Kami juga mohon agar masing-masing wilayah hanya bisa mendaftar ke SMA sesuai zona masing-masing. Kami juga memohon agar Pemerintah menambah kuota Jalur Kombinasi (nilai UN plus Jarak) menjadi 50% dari 15% saat ini,” tulis surat permohonan tersebut.

 

Baca Juga :